Followers

RSS

Apa itu Hallyu Wave?
Kalau kata Wikipedia,
Hallyu atau Korean Wave (“Gelombang Korea”) adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia.Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea.
Kegemaran akan budaya pop Korea dimulai di Republik Rakyat Cina dan Asia Tenggara mulai akhir 1990-an. Istilah Hanliu (韓流, Bahasa Korea:한류;Hallyu) diadopsi oleh media Cina setelah album musik pop Korea, HOT, dirilis di Cina. Serial drama TV Korea mulai diputar di Cina dan menyebar ke negara-negara lain seperti Hongkong, Vietnam, Thailand, Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin dan Timur Tengah. Pada saat ini, Hallyu diikuti dengan banyaknya perhatian akan produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, fashion, gaya rambut, film, hingga musik, menjadikan segala sesuatu yang berbau Korea menjadi begitu populer di kalangan masyarakat terutama para kawula muda.Tak ayal sebagai salah satu macan Asia, fenomena ini membuat Korea Selatan menjadi salah satu dari sepuluh eksportir budaya, disamping Jepang, Amerika, dan lain-lain.
Fenomena ini dilatar belakangi Piala Dunia Korea-Jepang 2002 yang berakhir dengan masuknya Korea sebagai kekuatan empat besar dunia dalam hal persepakbolaan semakin mempersohor Korea di mata dunia. Contohnya adalah beberapa waktu menjelang, selama, dan setelah hiruk pikuk Piala Dunia, beberapa stasiun televisi swasta di tanah air gencar bersaing menayangkan film-film maupun sinetron-sinetron Korea. Bahkan terdapat beberapa sinetron Korea yang ‘sukses’ di layar kaca.
Masih ingat-kah dengan duet Eun Suh dan Jun suh dalam Endless Love ? Drama Korea ini juga membuat terobosan baru dalam sejarah drama Asia. Image tokoh utama laki–laki yang biasanya digambarkan sebagai sosok yang maskulin dan cool didobrak oleh para aktor Korea yang tidak malu–malu melakukan akting tangis yang memukau. Uniknya penonton bergender perempuan justru menyukai terobosan ini karena mereka menganggap tokoh-tokoh pria dalam drama Korea lebih manusiawi, membumi, dan sensitif.
Drama Korea merupakan penyebab dari mulainya Hallyu di berbagai negara.Warga Korea Selatan suka menonton drama dan film dan mendengar musik. Perusahaan TV Korea mengeluarkan biaya besar untuk memproduksi drama dan beberapa diantaranya yang mencetak kesuksesan, diekspor ke luar negeri.
Setelah demam Endless Love melanda, tidak sulit bagi drama-drama Korea lain seperti Winter Sonata, Stairway to Heaven, Glass Shoes, Full House, Boys Over Flower yang semuanya bertema cinta, hingga yang bertema sejarah kolosal macam Janggeum Jewel in The Palace, Hwang Ji Ni, dan yang kini sedang diputar di Indosiar, The Great Korean Queen SanDeuk, untuk merebut hati para penonton di Indonesia. Nama-nama asing seperti Won Bin, Rain,Lee Minho, dan Song Hae Gyo,Kimbum kini tak lagi terdengar aneh di telinga kebanyakan orang.
Dibandingkan dengan Cina, Jepang dan Taiwan yang secara budaya dan geografis dekat dengan Korea, Indonesia dan negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Singapura, Malaysia, dan Vietnam memang terlambat mengenal Hallyu. Di Indonesia sendiri sinetron Korea seperti Winter Sonata dan Endless Love yang meramaikan layar kaca tanah air pada tahun 2002 mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia dan dari sinilah momentum mulai adanya Hallyu di Indonesia bisa dikatakan mulai muncul.
Beberapa waktu sebelum bergemanya sinetron Korea di Indonesia, Indonesia telah lebih dahulu terbiasa dengan masuknya budaya pop Amerika Serikat dalam hal ini Hollywood dan Jepang baik lewat film maupun animasinya. Namun mulai tahun 2002 yang lalu Korea Selatan telah menjadi negara pengekspor budaya popnya juga ke beberapa negara Asia bahkan ke belahan dunia lainnya.
Namun demikian, satu hal yang patut dicermati adalah masih rendahnya budaya penghargaan atau apresiasi terhadap suatu karya seni. Fenomena merebaknya Hallyu yang terjadi Indonesia bisa jadi merupakan euphoria terhadap budaya Korea yang memang semakin trend.Munculnya forum-forum diskusi, memorabilia para aktor Korea, dan bahkan klub-klub penggemar sinetron Korea memang menunjukkan sesuatu yang wajar apabila dipikir dengan kacamata positif. Namun, apabila kesenangan terhadap apa pun yang bersifat Korea tidak disertai dengan pemahaman tentang bagaimana dan apa sebenarnya Korea itu, maka fenomena maraknya Hallyu hanyalah akan semakin menjauhkan penikmat Hallyu itu dari inti budaya Korea itu sendiri.
Sementara itu, Hallyu yang terjadi di Indonesia juga seharusnya bisa dijadikan alat belajar bagi masyarakat Indonesia terutama mereka yang berkecimpung di dunia hiburan. Banyak yang bisa dipelajari dari keberhasilan Korea mengekspor budayanya. Salah satunya adalah kemampuan sineas korea untuk menghubungkandan menangkap pasar dari industri interaktif. Bukan hanya tayangan di televisi, tetapi mereka akhirnya juga telah berhasil mengemas produk mereka dalam bentuk VCD, CD, dan kaset lagu-lagu
Untuk itulah Indonesia yang saat ini mau tidak mau telah menjadi “pasar” atau konsumen budaya Korea harus bisa mengambil segi-segi positif yang bisa didapatkan terutama dalam hal bagaimana pemerintah Korea mendukung menyebarnya Hallyu ke dunia Internasional. Dukungan seperti ini perlu menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia dan pemerintah Indonesia untuk ikut memikirkan produk budaya lokal dan menghargainya. Hanya dengan kesadaran akan berharganya produk dalam negerilah suatu negara bisa dengan bangga memperkenalkan budayanya ke dunia internasional.

sumber: wikipedia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar